
Di garis start maraton SEA Games 2025 Thailand, tidak ada sorak penonton yang hingar-bingar seperti di stadion. Tidak ada musik keras, tidak ada selebrasi berlebihan. Yang ada hanya langkah kaki, napas yang teratur, dan pikiran yang harus tetap tenang selama lebih dari dua jam. Di ruang sunyi inilah Odekta Elvina Naibaho kembali membuktikan siapa dirinya—bukan hanya sebagai juara, tetapi sebagai atlet yang bertahan dalam konsistensi.
Medali emas yang diraihnya di Bangkok bukan sekadar kemenangan ketiga di SEA Games. Itu adalah hasil dari perjalanan panjang yang jarang disorot. Latihan yang monoton, jam-jam berlari sendirian, dan keputusan untuk tetap bertahan di cabang olahraga yang tidak selalu mendapat sorotan utama. Hattrick emas ini adalah cerita tentang daya tahan—fisik, mental, dan emosional.
Marathon: Cabor yang Menuntut Kesetiaan
Berbeda dengan nomor lari pendek yang penuh ledakan energi, maraton adalah olahraga tentang kesabaran. Setiap kilometer bukan soal kecepatan, melainkan pengendalian diri. Odekta memahami betul ini. Ia bukan tipe pelari yang langsung memimpin sejak awal. Strateginya sederhana namun disiplin: menjaga ritme, membaca lawan, dan menunggu momen.
Di SEA Games 2025, Odekta tidak tergoda mengikuti pace agresif di kilometer awal. Saat pelari lain mulai menunjukkan tanda kelelahan, ia justru terlihat stabil. Pada 10 kilometer terakhir, jarak dengan pesaing mulai terbuka. Bukan karena sprint mendadak, tapi karena konsistensi yang dijaga sejak awal lomba.
Kemenangan yang Tidak Instan
Emas ketiga Odekta sering dibingkai sebagai “dominasi”, seolah semuanya berjalan mudah. Kenyataannya, perjalanan menuju puncak ini justru penuh repetisi yang melelahkan. Latihan pagi sebelum matahari terbit, sesi jarak jauh berjam-jam, hingga pemulihan yang harus dijalani dengan disiplin tinggi.
Sebagai atlet, Odekta juga menghadapi tantangan yang jarang dibahas terbuka: fluktuasi kondisi tubuh, tekanan ekspektasi, hingga tuntutan untuk terus membuktikan diri. Maraton tidak memberi ruang untuk setengah-setengah. Sekali lengah, jarak yang dibangun bisa runtuh.
Namun di situlah kekuatan Odekta. Ia tidak membangun karier dari satu lomba besar, melainkan dari kehadiran yang konsisten di setiap sesi latihan, tahun demi tahun.
Momen Podium: Emas yang Dimaknai dengan Tenang
Saat berdiri di podium tertinggi dan lagu kebangsaan Indonesia berkumandang, Odekta tidak mengekspresikan kemenangan dengan euforia berlebihan. Ia berdiri tenang, menatap lurus ke depan, seolah sedang menuntaskan dialog panjang dengan dirinya sendiri.
Dalam upacara pemberian medali, Odekta menyampaikan kalimat singkat namun penuh makna.
“Emas ini bukan hanya untuk saya. Ini untuk Indonesia, untuk semua pelatih dan tim yang percaya, dan untuk proses panjang yang saya jalani selama ini,” ujar Odekta usai pengalungan medali.
Ia juga menegaskan bahwa kemenangan ini bukan akhir dari perjalanan.
“Marathon mengajarkan saya untuk sabar dan konsisten. Setiap langkah hari ini adalah hasil dari latihan yang tidak selalu terlihat,” tambahnya.
Kutipan tersebut mencerminkan cara Odekta memandang prestasi: bukan sebagai puncak semata, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang masih terus berjalan.
Dominasi Odekta atas pelari-pelari marathon kuat dari Asia Tenggara ini menegaskan bahwa konsistensinya bukan kebetulan. Tetapi hasil dari disiplin latihan dan strategi race yang matang.
Konsisten Lebih Penting dari Viral
Kisah Odekta relevan bagi banyak perempuan usia dewasa yang menjalani hidup aktif—baik sebagai pekerja, pelaku industri kreatif, maupun pegiat olahraga rekreasional. Tidak semua pencapaian datang dengan sorotan. Tidak semua kerja keras langsung terlihat. Namun seperti maraton, hasil selalu berpihak pada mereka yang bertahan.
Odekta menunjukkan bahwa kekuatan perempuan tidak selalu ditunjukkan lewat ledakan emosi, tetapi lewat ketenangan mengambil keputusan, kemampuan membaca diri sendiri, dan konsistensi menjaga komitmen. Dalam dunia yang sering menuntut hasil cepat, maraton mengajarkan satu hal penting: pelan tapi berkelanjutan jauh lebih kuat daripada cepat tapi habis.
Lebih dari Atlet, Simbol Ketahanan
Dengan hattrick emas SEA Games, Odekta Elvina Naibaho kini tidak hanya tercatat sebagai juara, tetapi sebagai simbol ketahanan atletik perempuan Indonesia. Ia membuktikan bahwa prestasi besar bisa lahir dari olahraga yang sunyi, dari latihan yang tidak selalu terlihat, dan dari pilihan untuk terus bertahan.
Ketika garis finis dilewati dan medali dikalungkan, satu hal menjadi jelas: emas ini bukan akhir perjalanan. Seperti yang tersirat dari ucapannya di podium, kemenangan ini adalah pengingat bahwa konsistensi—jika dijaga cukup lama—akan selalu menemukan jalannya menuju kemenangan.
Baca Juga: Dua Atlet Papua Bersinar di Turnamen Atletik SEA U18–U20 2025
Di ajang SEA Games 2025, Odekta mencatatkan waktu 2 jam 43 menit 13 detik untuk nomor marathon putri, catatan yang lebih cepat dan konsisten dibanding pesaingnya di posisi podium. Di belakangnya, Artjoy Torregosa dari Filipina menyusul dengan waktu sekitar 2 jam 48 menit, sedangkan Thi Thu Ha Bui dari Vietnam meraih perunggu dengan waktu sekitar 2 jam 54 menit.
Dominasi Odekta atas pelari-pelari kuat dari Asia Tenggara ini menegaskan bahwa konsistensinya bukan kebetulan, tetapi hasil dari disiplin latihan dan strategi race yang matang.




